MUJAHID DAN MUJADID SEORANG IBN TAYMIYYAH


Taman rindang itu dipenuhi beraneka tanaman. Bunga-bunga mewangi, sementara buah ranum menyembul disela-sela dahannya yang rimbun. Disatu pojok, sebatang tunas tumbuh dan berkembang dengan segarnya. Batangnya kokoh, rantingnya dihiasi pucuk-pucuk daun lebat dengan akar terhujam kebumi. Tunas itu khas. Ia berada ditempat yang khas. Jika fajar menyingsing sinar mentari menerpa pucuk-pucuknya. Ketika siang menjelang ia dipayungi rimbunan dahan di sekitarnya. Dan saat petang beranjak, sang raja siangpun sempat menyapa selamat tinggal melalui sinarnya yang lembut. Sang tunas tumbuh dalam suasana hangat. Maka tak heran jika ia tumbuh dalam, berbuah lebat, berbatang kokoh dan berdahan rindang. Tunas itu adalah Taqiyyudin Ahmad bin Abdilhalim bin Taymiyyah.

 

Seorang ulama, sekaligus mujtahid dan memiliki karakter radikal dalam pemikiran, itulah Ibnu Taimiyah.

 

Sejarah ummat Islam selalu dihiasi oleh prestasi-prestasi yang agung dalam segala bidang pengetahuan dan kesusasteraan. Begitu juga sejarah Islam tidak pernah sepi dari kisah-kisah pembaharu di lahan pemikiran. Apabila kita lihat sepintas lalu dalam khazanah pustaka Islam, realitas itu dapat tergambar begitu jelas.

Di antara para pemikir dan ulama besar itu adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mempunyai prestasi gemilang yang membawa pengaruh besar dalam transformasi pemikiran Islam di zamannya, bahkan jangkauannya ke depan hingga berpengaruh pula kepada generasi pembaharu sesudahnya.

 

Lahir di Harran, 22 Januari 1263 M (10 Rabiul Awal 661), keluarganya dikenal sangat berpengetahuan. Ayahnya bernama Abdul Halim, dan kakeknya adalah Majduddin, seorang pengikut mazhab Hambali yang memiliki sejumlah karya.

 

Harran adalah sebuah negeri dekat dataran Eropa, terletak antara Dajlah dan Euphrat. Kemudian pindah bersama keluarganya ketika menjelang usia tujuh tahun ke Damaskus, menjelang kedatangan tentara Mongol. Sementara ayahnya, diangkat sebagai guru besar dan pemimpin madrasah Sukkariyah. Di sanalah Ibnu Taimiyah dibesarkan dan terkenal.

 

Dikisahkan tentang kehidupan ayahndanya, "Tidak pernah mengajar melalui catatan atau buku-buku, atau perangkat lain yang dapat membangkitkan (menguatkan) daya ingatnya. Namun sang ayah mengajarkan dengan intuitif dan kecermelangan akalnya." Barangkali, kehebatan sang ayah inilah yang diwarisi oleh Ibnu Taimiyah, sehingga mempunyai kapasitas kecerdasan yang luar biasa, bahkan kelak menjadi argumentator yang tercatat dalam sejarah peradaban Islam.

 

Ibnu Taimiyah disamping hafal al-Qur'an, juga mendalami hadits, dan berungkali mempelajari kitab-kitab sahih. Ia juga sangat mahir dalam ilmu-ilmu bahasa Arab, studi fiqih dan mempunyai prestasi langka dalam kecermelangan intelektualnya, memahami secara mendalam ilmu-ilmu syariat dan filsafat serta kalam, pada zamannya dan zaman sebelumnya.

 

Di antara guru-gurunya adalah Syamsuddin al-Maqdisi, mufti pertama dari mazhab Hambali di Suriah, setelah adanya reformasi sistem pengadilan oleh Sultan Baibar. Jumlah guru Ibnu Taimiyah lebih dari 200 ulama, disamping Syamsuddin. Antara lain adalah Ibnu Abil Yusr, al-Kamal bin Abdul Majd bin Asakir, Yahya Ibnus-Syairafi, Ahmad bin Abil Khair dan yang lainnya.

 

Ibnu Taimiyah ketika berusia 17 tahu, telah diberi wewenang oleh Mufti al-Maqdisi untuk memberikan fatwa (keputusan hukum). Namun pada saat yang sama ia menolaknya. Ia tak mampu membujuk dirinya sendiri dengan berbagai batasan yang ditentukan oleh penguasa.

 

Jihad

 

Pada tahun 1300 M, pasukan Mongol dibawah raja Ghazan menyerang Suriah dan berhasil mengalahkan pasukan Sultan. Ketika melihat hal itu, Ibnu Taimiyah langsung menceburkan diri dalam kancah peperangan. Sementara kerusuhan terjadi dimana-mana, sejumlah nara pidana kabur dari penjara. Bersama sejumlah ulama Ibnu Taimiyah berjanji menjamin mengamankan kembali narapidana yang lepas dan menjamin keamanan bagi para penduduk sipil.

 

Untuk kedua kalinya pada tahun 1300 M itu, pasukan Mongol mengancam. Maka Ibnu Taimiyah menggerakan penduduk untuk berjihad melawan pasukan Mongol.

 

Ketika itu Ibnu Taimiyah bertempur dalam gabungan pasukan Suriah-Mesir dan berhasil memenangkan pertempuran. Akhirnya pasukan Mongol terpukul mundur. Dan kemenangan pertempuran itu tidak lepas dari peran Ibnu Taimiyah yang berhasil menghentikan laju pasukan Mongol.

 

Dipenjara 4 kali

 

Namun prestasinya dibidang perjuangan maupun ijtihad, tidak selamanya berjalan mulus. Sikapnya yang keras dan radikal membuat ia harus berhadapan dengan Sultannya sendiri, dan akhirnya dipenjarakan, dengan sejumlah tuduhan. Diantarannya Ibnu Taimiyah dituduh memiliki sifat antropomorfik (sifat manusia yang dikaitkan dengan bukan manusia atau tidak manusiawi). Toh, ia belum sempat membela diri, langsung dijebloskan ke penjara.

 

Namun setelah dibebaskan, ia memutuskan tinggal di Kairo. Namun karena kritiknya yang tajam terhadap pandangan hidup sufisme di Mesir, ia dipenjarakan oleh Sultan Baibar al Jashankir, kemudian diasingkan ke Aleksandria dan dikenakan tahanan rumah. Setelah tujuh bulan ia bebas, Ibnu Taimiyah kembali berdakwah di Kairo. Sultan Nasir Muhammad bin Qaawun sering berkonsultasi dan menjadikan sebagai penasihat pribadi.

 

Tahun 1313, ancaman Mongol muncul kembali, namun pasukan itu mundur sebelum bertempur. Ibnu Taimiyah mengajar kembali, setelah Sultan mengirimnya kembali ke Damaskus, 28 Pebruari 1313. Tahun 1318 Sultan mengirim surat kepadanya agar ia tidak berfatwa dengan fatwa yang bertentangan dengan mazhab Hambali. Namun Ibnu Taimiyah menolak mentaati Sultan dan akhirnya meringkuk kembali di penjara di sebuah benteng di Damaskus selama lima bulan 18 hari. Dan kemudian dibebaskan oleh Sultan Nasir 9 Pebruari 1321.

 

Penahanan terakhir Taimiyah terjadi ketika fatwa-fatwanya soal ziarah kubur ditentang oleh masyarakat ketika itu. Ia ditahan bersama muridnya termasuk Ibnu Qayyim al Jauzuyah, tahun 1326.

 

Posisi dikalangan ulama

 

Ditengah pro dan kontra atas sejumlah ijtihad dan fatwa-fatwanya, ia memiliki kebesaran ditengah para ulama, generasi sepeninggalnya, dengan tiga keutamaan: pertama, Ibnu Taimiyah dikenal sebagai ulama yang sangat tekun, disiplin dalam ijtihad, dan punya minat besar di bidang pengetahuan, disamping menjauhi kehidupan yang santai. Kedua, ia sangat terbuka dengan lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, hidupnya tidak bersifat egois, terpaku hanya pada bidang pengetahuan saja. Ketiga, ia terkenal sebagai ulama yang punya kecerdasan luar biasa. Konsisten dalam berpikir dan produktif.

 

Beliau tergolong salah seorang ulama yang sangat produktif dalam karya ilmiahnya. Karyanya kurang lebih mencapai 4 ribu naskah, yang mencapai 300 jilid, bahkan ada yang mengatakan sampai 500 jilid. Kitabnya yang populer adalah Ar-Radd alal Manthiqiyyin (kontra Terhadap Kelompok Logika) merupakan salah satu dari karyanya yang terkenal. Bahkan seandainya hanya kitab ini saja yang lahir dari karyanya, niscaya sudah cukup untuk mengangkatnya sebagai ulama besar dan pemikir. Sebab, kitab tersebut berpengaruh luas hingga kepada generasi sesudahnya.

 

Kitab ini merupakan antitesis terhadap pola pikir kefilsafatan Yunani secara keseluruhan. Pemikir Yunani yang terkenal dengan logika matematiknya telah mempengaruhi cara berpikir ummat manusia, bahkan telah mengimbas pula terhadap kebangkitan Eropa modern. Namun Ibnu Taimiyah tidak gentar menghadapi pemikiran Yunani yang dianggapnya justru menyesatkan itu. Kitab Ibnu Taimiyyah ini sebanding dengan karya Al Ghazali dalam Tahafutul Falasifah.

 

Jika Al Ghazali menghantam tradisi pemikiran filsafat Yunani dari segi pemikiran Aristoteles atau logika Yunani pada umumnya, dan memasukkan pola logika ini dalam pemikiran Islam. Kemudian membangun paradigma dalam karyanya, dengan maksud agar ulama Islam mengetahui tentang struktur logika Yunani pada zamannya. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah lebih radikal lagi, ia tidak menginginkan logika tersebut sebagai paradigma maupun salah satu proposisi dalam pemikiran Islam, baik sebagai sumber, metode atau tujuan. Ibnu Taimiyah dalam kitabnya itu, membangkitkan semangat berpikir Islami dengan cara membangun logika Islam secara murni.

 

Ironisnya, kitab Ibnu Taimiyah tersebut tidak tercetak, kecuali pernah dicetak hanya sekali di India, sehingga menjadikannya naskah yang langka. Betapa besar pengaruhnya manakala kitab tersebut dapat tersebar di seluruh dunia dan dinikmati oleh kalangan pemikir muslim.

 

Diantara karya-karyanyayang terkenal dan tersebar luas adalah Al Hisbah wamasuliyatul Hukumah al Islamiyah, Al Ikhtiyaratul Fiqhiyat, Kitabul Imam, Kitab at-Tawasul wal Wasilah, Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Taymiyah, Majmu;atu Rasaili Kubro, Al-qawaidun Naraniyah, As-Siyasah asy-Syar'iyah fi Ishlahir Ra'i war-Ra'yah, dan sebagainya. (Muhammad Luqman Hakiem)