LAKSAMANA
CHENG HO
Pendahulu
Colombus dan Vasco Da Gama ini
pernah singgah dan bertabligh akbar di Surabaya
kiriman
Amirul Akbar
Zulkifli
Pensyarah UNITAR
Selama hidupnya, Cheng Ho atau Zheng He melakukan petualangan antarbenua selama 7 kali berturut-turut dalam kurun waktu 28 tahun (1405-1433). Tak kurang dari 30 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika pernah disinggahinya. Pelayarannya lebih awal 87 tahun dibanding Columbus. Juga lebih dulu dibanding bahariwan dunia lainnya seperti Vasco da Gama yang berlayar dari Portugis ke India tahun 1497. Ferdinand Magellan yang merintis pelayaran mengelilingi bumi pun kalah duluan 114 tahun.
Ekspedisi Cheng Ho ke 'Samudera Barat' (sebutan untuk lautan sebelah barat Laut
Tiongkok Selatan sampai Afrika Timur) mengerahkan armada raksasa. Pertama
mengerahkan 62 kapal besar dan belasan kapal kecil yang digerakkan 27.800 ribu
awak. Pada pelayaran ketiga mengerahkan kapal besar 48 buah, awaknya 27 ribu.
Sedangkan pelayaran ketujuh terdiri atas 61 kapal besar dan berawak 27.550 orang.
Bila dijumlah dengan kapal kecil, rata-rata pelayarannya mengerahkan 200-an
kapal. Sementara Columbus, ketika menemukan benua Amerika 'cuma' mengerahkan 3
kapal dan awak 88 orang.
Kapal yang ditumpangi Cheng Ho disebut 'kapal pusaka' merupakan kapal terbesar
pada abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan lebar 18 zhang (56
m). Lima kali lebih besar daripada kapal Columbus. Menurut sejarawan, JV Mills
kapasitas kapal tersebut 2500 ton.
Model kapal itu menjadi inspirasi petualang Spanyol dan Portugal serta
pelayaran modern di masa kini. Desainnya bagus, tahan terhadap serangan badai,
serta dilengkapi teknologi yang saat itu tergolong canggih seperti kompas
magnetik.
Mengubah Peta Pelayaran Dunia
Dalam Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming) tak terdapat banyak keterangan yang
menyinggung tentang asal-usul Cheng Ho. Cuma disebutkan bahwa dia berasal dari
Provinsi Yunnan, dikenal sebagai kasim (abdi) San Bao. Nama itu dalam dialek
Fujian biasa diucapkan San Po, Sam Poo, atau Sam Po. Sumber lain menyebutkan,
Ma He (nama kecil Cheng Ho) yang lahir tahun Hong Wu ke-4 (1371 M) merupakan
anak ke-2 pasangan Ma Hazhi dan Wen.
Saat Ma He
berumur 12 tahun, Yunnan yang dikuasai Dinasti Yuan direbut oleh Dinasti Ming. Para
pemuda ditawan, bahkan dikebiri, lalu dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim
istana. Tak terkecuali Cheng Ho yang diabdikan kepada Raja Zhu Di di istana
Beiping (kini Beijing).
Di depan Zhu Di, kasim San Bao berhasil menunjukkan kehebatan dan keberaniannya.
Misalnya saat memimpin anak buahnya dalam serangan militer melawan Kaisar Zhu
Yunwen (Dinasti Ming). Abdi yang berpostur tinggi besar dan bermuka lebar ini
tampak begitu gagah melibas lawan-lawannya. Akhirnya Zhu Di berhasil merebut
tahta kaisar.
Ketika kaisar mencanangkan program pengembalian kejayaan Tiongkok yang merosot
akibat kejatuhan Dinasti Mongol (1368), Cheng Ho menawarkan diri untuk
mengadakan muhibah ke berbagai penjuru negeri. Kaisar sempat kaget sekaligus
terharu mendengar permintaan yang tergolong nekad itu. Bagaimana tidak, amanah
itu harus dilakukan dengan mengarungi samudera. Namun karena yang hendak
menjalani adalah orang yang dikenal berani, kaisar oke saja.
Berangkatlah armada Tiongkok di bawah komando Cheng Ho
(1405). Terlebih dahulu rombongan besar itu menunaikan shalat di sebuah masjid
tua di kota Quanzhou (Provinsi Fujian). Pelayaran pertama ini mampu mencapai
wilayah Asia Tenggara (Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Jawa). Tahun 1407-1409
berangkat lagi dalam ekspedisi kedua. Ekspedisi ketiga dilakukan 1409-1411.
Ketiga ekspedisi tersebut menjangkau India dan Srilanka. Tahun 1413-1415
kembali melaksanakan ekspedisi, kali ini mencapai Aden, Teluk Persia, dan
Mogadishu (Afrika Timur). Jalur ini diulang kembali pada ekspedisi kelima
(1417-1419) dan keenam (1421-1422). Ekspedisi terakhir (1431-1433) berhasil
mencapai Laut Merah.
Pelayaran
luar biasa itu menghasilkan buku Zheng He's Navigation Map yang mampu mengubah
peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi
mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Jalur
perdagangan Cina berubah, tidak sekadar bertumpu pada 'Jalur Sutera' antara
Beijing-Bukhara.
Dalam
mengarungi samudera, Cheng Ho mampu mengorganisir armada dengan rapi.
Kapal-kapalnya terdiri atas atas kapal pusaka (induk), kapal kuda (mengangkut
barang-barang dan kuda), kapal penempur, kapal bahan makanan, dan kapal duduk
(kapal komando), plus kapal-kapal pembantu. Awak kapalnya ada yang bertugas di
bagian komando, teknis navigasi, militer, dan logistik.
Berbeda
dengan bahariwan Eropa yang berbekal semangat imperialis, armada raksasa ini
tak pernah serakah menduduki tempat-tempat yang disinggahi. Mereka hanya
mempropagandakan kejayaan Dinasti Ming, menyebarluaskan pengaruh politik ke
negeri asing, serta mendorong perniagaan Tiongkok. Dalam majalah Star Weekly
HAMKA pernah menulis, "Senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal itu,
yang banyak adalah 'senjata budi' yang akan dipersembahkan kepada raja-raja
yang diziarahi."
Sementara
sejarawan Jeanette Mirsky menyatakan, tujuan ekspedisi itu adalah
memperkenalkan dan mengangkat prestise Dinasti Ming ke seluruh dunia. Maksudnya
agar negara-negara lain mengakui kebesaran Kaisar Cina sebagai The Son of
Heaven (Putra Dewata).
Bukan berarti
armada tempurnya tak pernah bertugas sama sekali. Laksamana Cheng Ho pernah
memerintahkan tindakan militer untuk menyingkirkan kekuatan yang menghalangi
kegiatan perniagaan. Jadi bukan invasi atau ekspansi. Misalnya menumpas
gerombolan bajak laut Chen Zhuji di perairan Palembang, Sumatera (1407).
Dalam kurun
waktu 1405-1433, Cheng Ho memang pernah singgah di kepulauan Nusantara selama
tujuh kali. Ketika berkunjung ke Samudera Pasai, dia menghadiahi lonceng
raksasa Cakradonya kepada Sultan Aceh. Lonceng tersebut saat ini tersimpan di
Museum Banda Aceh. Tempat lain di Sumatera yang dikunjungi adalah Palembang dan
Bangka.
Selanjutnya mampir di Pelabuhan Bintang Mas (kini Tanjung Priok). Tahun 1415
mendarat di Muara Jati (Cirebon). Beberapa cindera mata khas Tiongkok
dipersembahkan kepada Sultan Cirebon. Sebuah piring bertuliskan Ayat Kursi saat
ini masih tersimpan baik di Kraton Kasepuhan Cirebon.
Ketika menyusuri Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada itu) sakit
keras. Sauh segera dilempar di pantai Simongan, Semarang. Mereka tinggal di
sebuah goa, sebagian lagi membuat pondokan. Wang yang kini dikenal dengan
sebutan Kiai Jurumudi Dampo Awang, akhirnya menetap dan menjadi cikal bakal
keberadaan warga Tionghoa di sana. Wang juga mengabadikan Cheng Ho menjadi
sebuah patung (disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong), serta
membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu.
Perjalanan dilanjutkan ke Tuban (Jatim). Kepada warga pribumi, Cheng Ho
mengajarkan tatacara pertanian, peternakan, pertukangan, dan perikanan. Hal
yang sama juga dilakukan sewaktu singgah di Gresik. Lawatan dilanjutkan ke
Surabaya. Pas hari Jumat, dan Cheng Ho mendapat kehormatan menyampaikan khotbah
di hadapan warga Surabaya yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Kunjungan
dilanjutkan ke Mojokerto yang saat itu menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Di
kraton, Raja Majapahit, Wikramawardhana, berkenan mengadakan audiensi dengan
rombongan bahariwan Tiongkok ini.
Muslim Taat
Sebagai orang Hui (etnis di Cina yang identik dengan Muslim) Cheng Ho sudah
memeluk agama Islam sejak lahir. Kakeknya seorang haji. Ayahnya, Ma Hazhi, juga
sudah menunaikan rukun Islam kelima itu. Menurut Hembing Wijayakusuma, nama
hazhi dalam bahasa Mandarin memang mengacu pada kata 'haji'.
Bulan Ramadhan adalah masa yang sangat ditunggu-tunggu Cheng Ho. Pada tanggal 7
Desember 1411 sesudah pelayarannya yang ke-3, pejabat di istana Beijing ini
menyempatkan mudik ke kampungnya, Kunyang, untuk berziarah ke makam sang ayah.
Ketika Ramadhan tiba, Cheng Ho memilih berpuasa di kampungnya yang senantiasa semarak.
Dia tenggelam dalam kegiatan keagamaan sampai Idul Fitri tiba.
Setiap kali berlayar, banyak awak kapal beragama Islam yang turut serta.
Sebelum melaut, mereka melaksanakan shalat jamaah. Beberapa tokoh Muslim yang
pernah ikut adalah Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha'ban, dan Pu Heri.
"Kapal-kapalnya diisi dengan prajurit yang kebanyakan terdiri atas orang
Islam," tulis HAMKA.
Ma Huan dan Guo Chongli yang fasih berbahasa Arab dan Persia, bertugas sebagai
penerjemah. Sedangkan Hassan yang juga pimpinan Masjid Tang Shi di Xian
(Provinsi Shan Xi), berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan
negeri-negeri Islam. Hassan juga bertugas memimpin kegiatan-kegiatan keagamaan
dalam rombongan ekspedisi, misalnya dalam melaksanakan penguburan jenazah di
laut atau memimpin shalat hajat ketika armadanya diserang badai.
Kemakmuran masjid juga tak pernah dilupakan Cheng Ho. Tahun 1413 dia merenovasi
Masjid Qinging (timur laut Kabupaten Xian). Tahun 1430 memugar Masjid San San
di Nanjing yang rusak karena terbakar. Pemugaran masjid mendapat bantuan
langsung dari kaisar.
Beberapa sejarawan meyakini bahwa petualang sejati ini sudah menunaikan ibadah
haji. Memang tak ada catatan sejarah yang membuktikan itu, tapi pelaksanaan
haji kemungkinan dilakukan saat ekspedisi terakhir (1431-1433). Saat itu
rombongannya memang singgah di Jeddah.
Selama hidupnya Cheng Ho memang sering mengutarakan hasrat untuk pergi haji
sebagaimana kakek dan ayahnya. Obsesi ini bahkan terbawa sampai menjelang ajalnya.
Sampai-sampai ia mengutus Ma Huan pergi ke Mekah agar melukiskan Ka'bah
untuknya. Muslim pemberani ini meninggal pada tahun 1433 di Calicut (India),
dalam pelayaran terakhirnya.
(shofy, pam; dari berbagai sumber)